2.1 Teori Keperawatan “ Madeleine Leininger “
Madeleine Leininger adalah perawat profesional pertama di dunia yang memperoleh gelar doktor dalam bidang antropologi dan mengembangkan transkultur nursing sebagai sub bagian dari keperawatan. Pendidikan madeleine leininger yaitu beliau lulus pendidikan dasar keperawatan pada tahun 1948 dari St. Anthony’s school of Nursing, Denver, Bachelor of Science dari Benedictine College, Atchison pada tahun 1950, Master Of Science dalam keperawatan dari catholic University, Washington DC pada tahun 1953, PhD dalam bidang Antropology dari University of Washington, Seatle 1965.
Pada saat dia bekerja pada penasehat anak di midwestern United States (tahun 1950), Leininger mengalami “Cultural Shock”. Ketika dia bekerja sebagai perawat specialis di klinik dengan anak-anak yang terganggu dan orang tuanya, dia mengobservasi perilaku-perilaku yang berbeda diantara anak-anak tersebut dan menyimpulkan bahwa perbedaan-perbedaan ini didasarkan pada budaya / kultur. Dia mengidentifikasi kurangnya pengetahuan tentang kultur anak-anak sebagai link yang hilang dalam keperawatan untuk mengerti variasi-variasi dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien.
Leininger menggunakan istilah-istilah “ Transcultural Nursing”, “Ethnonursing”, dan “Cross Cultural Nursing”.
teori yang telah dibangun oleh Madeleine Leininger adalah Transcultural Nursing dimana pada tahun 1979 Leininger mendefinisikannya sebagai cabang dari keperawatan yang memfokuskan pada studi komparatif dan analisis kultur berkenaan dengan keperawatan dan praktek asuhan sehat-sakit, keyakinan-keyakinan, dan nilai-nilai dengan tujuan untuk memberikan makna dan kemanjuran pelayanan asuhan keperawatan untuk individu sesuai dengan nilai-nilai kultur dan keadaan sehat-sakit.
Leininger mendefinisikan Ethnonursing sebagai studi kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, praktek asuhan keperawatan sebagai mengerti/ merasa dan tahu tentang kultur melalui pengalaman langsung, keyakinan-keyakinan, dan sistem nilai.
Leininger mempunyai beberapa konsep yaitu diantaranya tentang budaya, nilai-nilai budaya, cultural care diversity, cultural care university, cultural care, world view, social structure, kontek lingkungan, sistem kesehatan, sistem kesehatan profesional, care, cultural care preservation, cultural care accomodation, cultural care reppatterning dan tambahan yaitu keperawatan adalah transcultural care proffesion, dimana secara satu persatu konsep tersebut akan dijelaskan.
Budaya adalah mempelajari, membagi dan memindahkan nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, norma-norma, dan praktek kehidupan kelompok-kelompok utama yang mengarahkan pemikiran, keputusan, dan tindakan-tindakan dengan cara yang terpola. Berdasarkan asumsi bahwa manusia adalah manusia berbudaya dan mempunyai kemampuan untuk hidup lebih lama melalui kemampuan mereka untuk merawat orang lain untuk semua tingkat usia pada berbagai lingkungan dan berbagai cara.
Nilai-nilai budaya dibawa dari budaya dan mengidentifikasi keinginan pengakuan dan diketahui. Nilai-nilai ini sering dianut oleh suatu budaya untuk waktu tertentu dan memberikan arahan untuk membuat keputusan untuk anggotabudaya tersebut. Nilai-nilaibisa bermacam-macam atau universal (umum).
Cultural care diversity menunjukan “ bervariasinya makna, pola-pola, nilai-nilai atau simbol-simbol asuhan yang secara budaya dibawa oleh masyarakat untuk kesejahteraannya atau untuk meningkatkan kondisi manusia dan kehidupan atau menghadapi kematian.
Cultural care university merujuk kepada umum, serupa atau seragam maksud, pola, nilai atau simbol asuhan yang secara budaya dibawa oleh masyarakat untuk kesejahteraan atau untuk meningkatkan kondisi manusia dan kehidupan atau menghadapi kematian. Perawatan dapat diperlihatkan dengan bermacam-macam ekspresi, tindakan, pola, gaya hidup dan arti.
Cultural care didefinisikan sebagai nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, pengungkapan-pengungkapan yang terpola yang membantu, mendukung atau memampukan individu lain atau kelompok untuk memelihara kesehatannya, meningkatkan kondisi manusia atau kehidupan atau menghadapi kematian dan kecacatan. Berdasarkan asumsi bahwa cultural care adalah pengertian yang luas untuk mengetahui, menjelaskan, menjumlahkan, dan memprediksi fenomena asuhan keperawatan dan untuk mengarahkan praktek asuhan keperawatan.
World view (pandangan dunia), dimana manusia melihat atau memandang dunia, berbentuk gambar atau pandangan tentang dunia atau kehidupannya.
Social structure didefinisikan sebagai pelibatan faktor-faktor struktural dan organisasional alami yang dinamis pada budaya utama (masyarakat) dan bagaimana faktor-faktor ini berfungsi untuk memberikan arti dan struktural order termasuk agama, kekeluargaan, politik, ekonomi, pendidikan, teknologi dan faktor-faktor budaya.
Kontek lingkungan secara total adalah kejadian-kejadian, situasi atau pengalaman utama yang memberikan maksud/arti untuk manusia berekspresi di dalam interaksi sosial, fisikal, ekologikal, emosional, dan dimensikultural. Arti dari pengetahuan dan praktek berasal dari nilai-nilai dunia, faktor-faktor sosial, nilai-nilai budaya, kontek lingkungan dan pengguna bahasa adalah penting untuk mengarahkan keperawatan dan tindakan-tindakan dalam memberikan asuhan yangsesuai.
Sistem kesehatan (kesehatan rakyat) adalah asuhan kesehatan traditional atau lokal atau praktek-praktek pengobatan yang mempunyai arti special dan menggunakan penyembuhan untuk membantu sesorang.
Kesehatan adalah keadaan sejahtera yang secara budaya didefinisikan, penilaian dan praktek yang merefleksikan kemampuan individu (kelompok) untuk melaksanakan peran aktifitassehari-harinya dengan cara memuaskan.
Sistem kesehatan profesional didefinisikan sebagai asuhan profesional dan tawaran pelayanan pengobatan oleh bermacam-macam jenis tenaga kesehatan yang dipersiapkan melalui program profesioanl yang formal pada institusi pendidikan special. Dengan asumsi bahwa semua budaya mempunyai praktek pelayanan kesehatan profesional dan traditional.
Care (asuhan) sebagai kata benda didefinisikan sebagai suatu fenomena yang berhubungan dengan bantuan, dukungan, atau perilaku untuk memampukan individu atau kelompok dengan petunjuk atau kebutuhan yang diantisipasi atau meningkatkan kondisi atau kehidupan manusia. Asuhan diasumsikan sebagai suatu yang dominan, merupakan kesatuan dan pusat domain keperawatan, sedangkan cure tidak dapat terjadi secara efektif tanpa care, tapi care bisaterjadi tanpa cure.anggapan yang berhubungan dengan asuhan atau keperawatan adalah penting untuk kehidupan manusia, perkembangannyadan kemampuan untuk menghadapi kejadian-kejadian kritis dalam kehidupan, termasuk penyakit, kecacatan, dan kematian.
Cultural care preservation diketahui sebagai pemeliharaan yang meliputi bantuan, dukungan, atau memampukan tenaga kesehatan dalam tindakan-tindakan, dan keputusan untuk membantu klien pada budaya tertentu dalam memelihara kesehatan atau memulihkan dari sakit atau menghadapi kematian.
Cultural care accomodation diketahui sebagai negoisasi di dalam memberikan bantuan, dukungan, atau memampukan tenaga kesehatan profesional dalam bertindak dan membuat keputusan untuk membantu klien pada budaya tertentu beradaptasi pada atau negoisasi yang bermanfaat, atau status kesehatan yang memuaskan, atau menghadapi kematian.
Cultural care repatterning atau restrukturisasi meliputi bantuan, dukungan, atau memampukan tenaga kesehatan profesional dalam bertindak dan membuat keputusan untuk membantu klien merubah cara hidupnya dengan cara baru atau pola yang berrbeda yang secara budaya bermakna dan memuaskan atau mendukung kemanfaatan pola hidup yang sehat.
Transcultural care profession (asuhan profesi antar budaya ) perawat memberikan asuhan kepada individu dari berbagai budaya yang berbeda dengan atau tanpa transcultural perspective. Untuk lebih efektif, logis, dan relevan untuk bermacam-macam individu di dunia, keperawatan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang berdasarkan transcultural. Asuhan keperawatan yang berdasarkan budaya adalah faktor kritis untuk peningkatan dan pemeliharaan kesehatan yang efektif, seperti pemulihan dari sakit dan kecacatan.
Tn. D (26 th) dan Ny. Y (18 th) baru menikah sekitar 6 bulan yang lalu dan sekarang ini Ny. Y tengah mengandung 2 bulan. Ketika perawat mengunjungi keluarga muda tersebut, Ny. Y mengatakan bahwa ia mual dan muntah-muntah sehingga ia malas untuk makan karena ia khawatir semakin ia makan akan semakin hebat rasa mual dan muntah yang dideritanya. Ia pun mengatakan bahwa ia bingung bagaimana nanti ia mengasuh anaknya dan tidak yakin dapat menjadi ibu yang baik Karena ia merasa masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu yang baik karena ia merasa masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu.
Ketika ditanyakan mengenai pemeriksaan kesehatan yang telah dilakukannya, Ny. Y mengatakan bahwa ia belum pernah memeriksakan kandungannya kepada pelayanan kesehatan karena rasa malas bepergian kemana-mana. Pada pertemuan selanjutnya perawat berkesempatan untuk bertemu dengan Tn D. dari hasil pengkajian didapatkan bahwa Tn. D berbahagia akan kehamilan istrinya dan menganggap bahwa malas makan akibat mual-muntah yang dialami istrinya adalah hal yang wajar terjadi pada wanita hamil. Tn D pun tidak menganjurkan istrinya untuk memeriksakan kandungannya ke pelayanan kesehatan karena ia yakin kandungan istrinya baik-baik saja. Tn D mengatakan bahwa orang tuanya pun dulu tidak pernah memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan, tetapi semuanya berjalan baik-baik saja.
1. Nama Kepala Keluarga : Tn. D
2. Alamat dan telephon : Jl. Kolonel Akhmadsyam no. 60 jatinangor.
3. Pekerjaan Kepala Keluarga : Pegawai Negeri
4. Pendidikan Kepala Keuarga : D III
II. Riwayat tahap perkembangan keluarga
11. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga dengan pasangan baru (beginning family)
12. Tahap perkembangan yang belum terpenuhi
Memiliki keturunan melalui program Keluarga berencana
13. Riwayat keluarga inti
· Dalam keluarga saat ini tidak ditemukan penyakit menular dan penyakit keturunan
· Istri Tn. D sedang hamil 2 bulan dan saat ini mengeluh mual dan muntah
· Tn. D belum pernah membawa istrinya berobat ke puskesmas
· Pengalaman keluarga terhadap pelayanan kesehatan baik
14. Riwayat kesehatan sebelumnya
Tn. D dan istri tidak pernah menderita penyakit menular maupun keturunan
· Jumlah jendela : 6 buah
· Jarak sumber air dengan septik tank : 10 meter
· Sumber air minum yang digunakan adalah sumur bor
· Ruangan rumah tertata dengan rapi
16. Karakteristik tetangga dan komunitas
Keluarga tinggal di lingkungan masyarakat yang memegang teguh adat istiadat setempat, misalnya ; kebiasaan bergotong royong, pertemuan rukun tetangga, Lingkungan fisik tempat keluarga tinggal cukup bersih dan nyaman. Sebagian besar kegiatan dari kepala keluarga ditempat tinggal tersebut adalah bekerja di pagi hari.
17. Mobilitas geografis keluarga
Keluarga tidak berpindah tempat tinggal
18. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga berkumpul biasanya setelah kepala keluarga pulang bekerja pada waktu sore hari. Sedangkan dalam berinteraksi dengan masyarakat berjalan baik dan kepala keluarga sering mengikuti pertemuan rukun tetangga maupun rukun warga
19. Sistem pendukung keluarga
Dalam keluarga hanya terdapat dua orang yang tinggal serumah yaitu; Tn. D dan istrinya. Dalam menjangkau pelayanan kesehatan, keluarga memiliki sarana berupa sebuah sepeda motor. Dan apabila ada salaah satu anggota keluarga yang sakit, kepala keluarga segera membawa anggota yang sakit ke tempat pelayanan kesehatan.
20. Pola komunikasi keluarga
Cara berkomunikasi yang digunakan dalam keluarga adalah komunikasi verbal dengan jenis komunikasi fungsional.
21. Struktur kekuatan keluarga
Kepala keluarga termasuk aktif disalah satu organisasi masyarakat yang ada.
22. Struktur peran (formal dan informal)
Kepala keluarga berperan menafkahi keluarga dengan bekerja sedangkan istri berperan dalam mengatur rumah tangga
23. Nilai dan norma keluarga
Keluarga memegang teguh adat istiadat yang berlaku. Kepala keluarga meyakini dan mengikuti kebiasaan ibunya dalam menghadapi istrinya yang sedang hamil, bahwa kondisi istrinya saat ini dianggap tidak perlu dibawa kepelayanan kesehatan karena dianggap merupakan hal yang normal.
Saling menghormati dan menghargai dalam keluarga sangat terlihat baik secara komunikasi maupun lewat tingkah laku antar anggota keluarga
Interaksi masing-masing anggota keluarga didalam masyarakat berjalan dengan baik
26. Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi ini masih belum berjalan dengan baik karena kepala keluarga belum mampu mengenal masalah kesehatan yang dialami oleh salah satu anggota keluarga (istri)
Keluarga belum memiliki anak. Saat ini istri Tn. D sedang hamil 2 bulan.
Kebutuhan akan pangan, sandang dan papan didalam keluarga terpenuhi dengan baik
VI.Stres dan koping keluarga
29. Stressor jangka pendek dan panjang
Saat ini keluarga merasakan adanya suatu permasalahan didalam keluarga yaitu; keluarga, terutama istri merasa belum siap untuk menjadi seorang ibu karena belum banyak mengetahui tentang cara-cara merawat anak
30. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
Jika terdapat masalah didalam keluarga maka kepala keluarga mengajak anggota keluarga untuk berdiskusi dalam membahas jalan keluar dari masalah tersebut
31. Strategi koping yang digunakan
Strategi koping yang digunakan dalam menghadapi masalah dalam keluarga yaitu koping konstruktif
32. Strategi adaptasi disfungsional
- Keadaan umum tampak baik, kesadaran compos mentis, TB : 150 cm, BB : 52 kg, TD : 120/70 mmhg, Nadi : 78x/mtt, RR : 22x/mt, Suhu : 36 5 0 C.
- Kepala : kulit kepala bersih, rambut tampak tumbuh subur, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri kepala. Wajah, edema wajah tidak ada, cloasma gravidarum tidak ada
- Telinga : fungsi pendengaran baik, kebersihan terjaga, nyeri tekan daerah belakang telinga tidak ada.
- Mata : sklera putih, konjungtiva agak pucat, fungsi penglihatan baik, pergerakan bola mata baik
- Hidung : penciuman baik, kebersihan terjaga, polip tidak ada, nyeri tekan daerah maxila tidak ada
- Mulut : kebersihan terjaga, gigi tampak bersih, lidah bersih, mukosa bibir lembab, nyeri menelan tidak ada, mual (+), muntah (+)
- Leher : pembesaran tyroid tidak ada, defiasi trakhea tidak ada, peninggian vena jugularis tidak ada
- Dada : tampak simetris, bunyi napas vesikuler, bilateral, bunyi jantung tidak ada kelainan, nyeri tekan tidak ada, kedua mamae tampak simetris, areola tampak kecoklatan, nipple menonjol.
- Abdomen : striae gravidarum tidak ada, nyeri abdomen tidak ada,
- Genitalia : edema tidak ada, hemorhoid tidak ada, varises tidak ada, pengeluaran cairan sedikit, vagina tampak kebiruan, goodle sign (+)
- Ekstremitas : varises tidak ada, pergerakan baik, tanda-tanda tromboplebitis tidak ada.
- Pola makan : 3 x sehari, dengan menu nasi, sayur dan lauk. Pada saat ini ibu malas untuk makan karena adanya rasa mual dan muntah.
- Pola eleminasi : BAB 1 x sehari dengan konsistensi lembek, BAK 3-4 x sehari.
- Aktifitas : kegiatan ibu hanya didalam rumah dan melaksanankan kegiatan rumah tangga, ibu mengeluh sering capek-capek sehingga malas untuk keluar rumah
- Tidur : tidur malam selama 7 – 8 jam, tidur siang 2 jam, masalah tidur tidak ada
- Psikologis : saat ini ibu merasa cemas menghadapi kehamilannya karena ia merasa belum siap untuk mengasuh seorang anak
Harapan keluarga terhadap petugas kesehatan yang ada cukup baik karena keluarga mengharapkan di kunjungi oleh petugas kesehatan pada saat-saat tertentu
|
|
|
|
|
|
|
· Ny. Y mengatakan bahwa ia mual dan muntah-muntah sehingga malas untuk makan karena ia khawatir semakin ia makan semakin hebat rasa mual dan muntah yang dideritanya.
· Tn. D menganggap bahwa malas makan akibat mual dan muntah yang dialami istrinya adalah hal yang wajar terjadi pada wanita hamil.
|
Kurangnya pengetahuan keluarga Tn. D terhadap dampak mual dan muntah terhadap kehamilan
Persepsi keluarga terhadap mual dan muntah yang dialami Ny. A tidak tepat
Mual dan muntah tidak diatasi
Intake nutrisi tidak adequate pada Ny. Y
Resiko tinggi gangguan pada kehamilan Ny. Y
|
Resiko tinggi gangguan kehamilan Ny. Y
|
|
|
· Ny. Y mengatakan bahwa ia bingung bagaimana nanti ia mengasuh anaknya dan tidak yakin dapat menjadi ibu yang baik Karena ia merasa masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu.
|
Kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara perawatan anak
Kecemasan keluarga dalam menghadapi kehadiran anak
|
Kecemasan keluarga dalam menghadapi kehadiran anak
|
|
|
· Ny. Y mengatakan bahwa ia belum pernah memeriksakan kandungannya kepada pelayanan kesehatan karena rasa malas bepergian kemana-mana.
· Tn. D tidak menganjurkan istrinya untuk memeriksakan kandungannya ke pelayanan kesehatan karena ia yakin kandungan istrinya baik-baik saja.
· Tn. D mengatakan bahwa orang tuanya pun dulu tidak pernah memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan, tetapis semuanya berjalan baik-baik saja.
|
Kurangnya pengetahuan kelauarga tentang pentingnya pemriksaan kehamilan
Persepsi keluarga terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan tidak tepat
Pemeriksaan kehamilan pada Ny. A tidak dilakukan
Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang hamil.
|
Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan : tidak memeriksakan kehamilan
|
- Resiko tinggi gangguan kehamilan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga terhadap dampak mual dan muntah pada kehamilan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Mual dan muntah yang tidak diatasi dapat mengakibatkan kebutuhan nutrisi dan cairan ibu dan janin tidak terpenuhi sehingga pertumbuhan perkembangan akan terhambat.
|
|
|
Kemungkinan masalah dapat diubah :
|
|
|
|
Peningkatan pengetahuan keluarga tentang dampak mual dan muntah terhadap kehamilan akan merubah persepsi keluarga yang tidak tepat dalam menangani mual dan muntah yang dialami Ny. A
|
|
|
Potensial masalah untuk dicegah :
|
|
|
|
Gangguan kehamilan tidak akan terjadi jika mual dan muntah yang dialami Ny. A diatasi dengan cepat dan tepat.
|
|
|
Masalah berat harus segera ditangani
|
|
|
|
Malas makan akibat mual dan muntah yang dialami Ny, A dianggap hal yang biasa terjadi pada ibu hamil oleh Tn. A
|
|
|