Waspada Laptop Bisa Merusak Sperma

Waspada Laptop Bisa Merusak Sperma - Peringatan ini ditujukan bagi para pengguna laptop atau notebook, sebaiknya gunakanlah laptop anda di meja dan jangan dipangku. Karena, bisa menghambat pembentukan sperma yang berakibat kepada kemandulan. Walaupun dari namanya, komputer kecil ini digunakan dengan cara dipangku. Tapi bagi para pria muda, termasuk juga remaja pria sebaiknya tidak menggunakan laptop dengan cara tersebut. Karena hal ini dapat mempengaruhi kesuburannya atau dengan kata lain dapat menyebabkan kemandulan.
Laptop yang dioperasikan dengan cara dipangku, akan menyebabkan suhu yang tinggi, yang dapat memanaskan daerah skrotum (buah pelir) sehingga mempengaruhi kualitas dan kuantitas sperma dari seorang pria. Skrotum merupakan tempat pembuatan sperma. Dan suhu yang tinggi akan menghambat pembentukan sperma.

Menurut jurnal Human Reproduction, pria muda yang menggunakan laptop beberapa kali dalam sehari selama beberapa tahun berisiko paling besar karena pada saat 15-20 tahun kemudian masalah baru akan timbul saat mereka berencana mempunyai keluarga. Belum diketahui dengan pasti berapa lama laptop dapat digunakan dengan aman. Dari 29 pria sehat yang menjadi sukarelawan, yang berusia antara 21-35 tahun, dilakukan pengukuran suhu skrotum, sebelum dan setelah penggunaan laptop dengan cara dipangku.
Walaupun laptop tersebut tidak dinyalakan, hanya dengan dipangku saja, telah terjadi kenaikan suhu sekitar 2,1 derajat Celsius. Dan bila dinyalakan, maka terjadi kenaikan suhu sebesar 2,8 derajat Celsius pada sisi kanan dan 2,6 derajat Celsius pada sisi kiri. Hal ini menunjukkan suhu yang tinggi pada skrotum terjadi sebagai akibat posisi tubuh (kedua paha yang dirapatkan) dan efek panas dari laptop. Dua tahun lalu juga pernah dilaporkan, dimana seorang pria yang berusia sekitar 50 tahun mengalami luka bakar pada penis-nya saat menggunakan laptop selama 1 jam dengan cara dipangku.
"Naiknya temperatur pada skrotum cukup untuk menyebabkan perubahan pada parameter sperma" tegas Dr. Yefim Sheynkin, seorang guru besar urology di State University of New York.
"Penggunaan (laptop) jangka panjang kemungkinan memiliki efek yang merusak pada kesehatan reproduksi para pria" ujarnya. "Sangat sulit untuk memprediksi berapa lama komputer dapat dipakai secara aman" tegas Dr. Sheynkin seperti dilansir Reuters. "Bisa saja temperatur testikel akan naik tak berapa lama setelah laptop dinyalakan". Penelitian ini dimuat pada jurnal Human production.
Pria dewasa dan mereka yang beranjak remaja yang menggunakan laptop beberapa kali sehari menghadapi risiko yang lebih besar seiring berjalannya waktu.
Sheynkin mengkhawatirkan jika penggunaan laptop tidak dikurangi, pada 15 - 20 tahun mendatang saat mereka siap membina keluarga, para pria ini bisa menghadapi masalah. (to)

HARI GIZI DAN MAKANAN DI INDONESIA 2015

HARI GIZI DAN MAKANAN DI INDONESIA 2015


PENGERTIAN :!!
Gizi baik akan menurunkan kesakitan, kecacatan, dan kematian serta menjaga kesetabilan pengeluaran pemerintah untuk kesakitan dan kecacatan. Karena itu, gizi baik adalah kunci keberhasilan pelaksanaan jaminan kesehatan nasional (JKN).

Demikian, pernyataan Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak (KIA), dr. Anung Sugihantono, M.Kes, pada kegiatan Puncak Peringatan Hari Gizi Nasional ke-54 tahun 2014 yang bertema “Gizi Baik, Kunci Keberhasilan Pelaksanaan JKN di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta (25/2).

“Hari Gizi Nasional (HGN) ke 54 tahun 2014 menjadi momen berharga untuk membangun kesadaran berperilaku gizi seimbang”, ujar dr. Anung.

Puncak peringatan HGN ke-54 tahun 2014 secara resmi dibuka oleh Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN (Bappenas), Dra. Nina Sardjunani, MA.

Usai peresmian Puncak Peringatan HGN ke-54 tahun 2014,  Menkes RI meluncurkan sekaligus menyerahkan secara simbolis 4 buah buku, yaitu: 1) Angka Kecukupan Gizi (AKG) kepada Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Ir. Roy Sparingga, M.App.Sc., Ph.D; 2) Pedoman Gizi Seimbang (PGS) kepada Direktur Pemberdayaan Adat dan Sosial Budaya Masyarakat, Ditjen PMD Kemendagri, Nata Irawan, SH, Msi; 3) Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS) kepada Direktur Bina Upaya Kesehatan (BUK) Rujukan, Kemenkes RI, H. Chairul rajab Nasution, Sp.PD, KGEH, FINASIM, M.Kes; serta 4) Komik “Ayo Sarapan Sehat” kepada Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak (KIA), dr. Anung Sugihantono, M.Kes.

Pentingnya gizi dalam kehidupan bangsa Indonesia, sudah dirintis oleh almarhum Prof. Poorwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia, sejak awal kemerdekaan tahun 1950. Saat itu beliau diangkat oleh Menteri Kesehatan, almarhum dr. J. Leimena, untuk mengepalai Lembaga Makanan Rakyat (LMR) yang juga dikenal sebagai Instituut Voor Volksvoeding (IVV). Salah satu hasil perjuangan Prof. Poorwo Soedarmo adalah mendirikan Sekolah Djuru Penerang Makanan pada 25 Januari 1951. Mulai sejak tahun 1960 sampai sekarang, setiap tanggal 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional.

HARI LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA TAHUN 2015

HARI LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA



LATAR BELAKANG
Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang pertama kali dicetuskan pada tahun 1972 sebenarnya merupakan rangkaian kegiatan lingkungan dari dua tahun sebelumnya ketika seorang senator Amerika Serikat Gaylord Nelson menyaksikan betapa kotor dan cemarnya bumi oleh ulah manusia, maka ia mengambil prakarsa bersama dengan LSM untuk mencurahkan satu hari bagi usaha penyelamatan bumi dari kerusakan. Pada tanggal 22 April 1970 Gaylord Nelson memproklamasikan Hari Bumi (Earth Day), sehingga tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Bumi (Earth Day).
Di Indonesia sendiri peringatan Hari Bumi tidak begitu banyak diketahui oleh masyarakat bila dibandingkan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni. Secara prinsip tidak ada perbedaan antara Hari Bumi dan Hari Lingkungan, hanya saja sejarahnya yang berbeda. Hari Bumi diprakarsai oleh masyarakat dan diperingati terutama oleh LSM maupun organisasi yang berorientasi kepada pelestarian lingkungan hidup, sedangkan Hari Lingkungan didasarkan dari Konferensi PBB mengenai Lingkungan hidup yang diselenggarakan pada tanggal 5 Juni 1972 di Stockholm, sehingga tanggal konferensi tersebut ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Indonesia juga ikut terlibat dalam konferensi tersebut dengan hadirnya Prof. Emil Salim yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Bappenas. Hari Lingkungan Hidup Sedunia bersifat lebih resmi dan diperingati oleh masyarakat dan pemerintah di seluruh dunia. Tujuan kedua peringatan hari tersebut adalah sama yaitu untuk menggugah kepedulian manusia dan masyarakat pada lingkungan hidup yang cenderung semakin rusak.

TUJUAN
Kondisi lingkungan hidup manusia yang bersifat majemuk menyangkut lingkungan budaya, religius, sosial, intelektual dan sebagainya mempengaruhi kehidupan manusia. Manusia berinteraksi dengan lingkungan alam dan ada hubungan saling mempenggaruhi, manusia bersama dengan lingkungan merupakan suatu ekosistem. Didalam kesatuan unsur-unsur ekosistem maka didalam unsur-unsur yang lain tidak dapat dipisahkan.
Maka kita sebagai makhluk yang tidak bisa dipisahkan dari Lingkungan kita wajib menjaga dan melestarikan lingkungan hidup kita sendiri untuk generasi-generasi yang akan datang.


WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
 Peringatan hari Lingkungan Hidup ini dilaksanakan pada hari minggu, 05 juni 2011 di alun – alun kota Metro, bertepatan dengan hari Car Freeday yang diadakan oleh Pemkot Kota Metro yang rutin diadakan setiap bulan pada minggu pertama.

PESERTA
Acara ini di ikuti oleh jajaran pengurus IALI PD Lampung serta beberapa pejabat kota Metro. Hampir Setengah dari Masyarakat kota metro berkumpul dialun – alun mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan dalam rangka Car Freeday dan Hari lingkungan Hidup Sedunia.

KENALI HAL PENTING MENGENAI VIRUS EBOLA | INILAH BAHAYA VIRUS EBOLA DAN CARA PENCEGAHANNYA | SEJARAH VIRUS EBOLA| SPESIFIKASI VIRUS EBOLA

Kenali Hal Penting Mengenai Virus Ebola
Sekarang ini banyak sekali penyakit yang sering menyerang siapa saja dan kapan saja baik itu penyakit yang berbahaya maupun penyakit yang sedang (tidak berbahaya). Dan salah satu jenis penyakit yang sedang merajalela adalah virus ebola. Semua negara saat ini sedang berjaga-jaga untuk menghindari adanya virus tersebut sebab virus ini bisa saja menyebar melalui jalan pariwisata.

MENGENAL VIRUS EBOLA


Nah, untuk mengenal virus Ebola berikut ini hal penting mengenai virus Ebola :
1. Apa Yang Dilakukan Ebola Dalam Tubuh
Virus Ebola merupakan virus yang mematikan. Virus Ebola dapat mengakibatkan pendarahan internal dan eksternal serta merusak kekebalan tubuh dan organ-organ tubuh yang sangat penting. Darah akan sulit beku jika anda terserang penyakit ini dan pada akhirnya akan berakhir kepada kematian.
2. Bagaimana Virus Ebola Menyebar?
Virus ini dapat menyebar melalui kontak langsung dengan benda-benda seperti meja, tempat tidur dan lainnya, namun tidak bisa menyebar lewat udara dan air.
3. Gejala Ebola
Gejala penyakit virus Ebola bisa sering diawali dengan adanya pendarahan pada gusi, hidung, mata dan disekitar kuku jari.
4. Jika Ingin Berpergian Ke Luar Negeri
Jika anda sedang berpergian ke luar negeri atau berlibur sebaiknya selalu menjaga kebersihan anda dan jangan mengunjungi tempat dimana virus Ebola dapat menyebar.
Virus Ebola, Waspada dan Kenali Virus Berbahaya Satu Ini - Mewabahnya virus Ebola di Afrika Barat menjadi populer dalam dunia internasional. Bagaimana tidak, virus Ebola sampai saat ini sudah menewaskan sekitar 961 jiwa di Liberia, Guinea, Sierra Leone Nigeria.
Oleh sebab itu, inilah saatnya untuk kita mengetahui apa saja gejala terinfeksi salah satu virus mematikan ini. Berikut ulasannya, sebagaimana dikutip dari Boldsky, Rabu (13/8/2014).
Demam tinggi, menggigil, dan kelelahan
Bila Anda mengalami demam tinggi yang tidak kunjung turun lebih dari satu minggu, maka Anda disarankan melakukan uji laboratorium. Karena Virus Ebola ini biasanya akan memengaruhi kondisi fisik, diantaranya menggigil seperti gejala malaria, demam berdarah dan kelelahan.
Mengalami perdarahan
Biasanya, Virus inii menyebabkan perdarahan di mata, telinga, hingga hidung. Hal ini terjadi biasanya dalam waktu sekitar 3 sampai 4 pekan setelah teinfeksi bila gejala-gejala tidak diobati. Selain itu, saat Anda terkena infeksi virus Ebola, perdarahan juga dapat terjadi di mulut dan gusi.
Bahkan, saat buang air besar pun Anda akan melihat adanya darah pada feses sebagai akibat perdarahan di usus. Dan bagu wanita juga mungkin mengalami perdarahan di Miss V ketika terinfeksi virus Ebola.
Nyeri dan ruam
Merasakan adanya nyeri ditubuh Anda adalah gejala umum ketika Anda terserang flu atau demam. Namun, rasa nyeri jika terinfeksi virus Ebola terjadi dapat dimulai dari bawah kulit Anda. Selain itu, kulit yang mengalami ruam yang penuh darah. Dan biasanya ruam terisi dengan nanah, ini merupakan darah yang bisa sangat menyakitkan.
Sesak napas dan kelelahan
Mempunyai penyakiti sesak napas merupakan gejala yang sangat spesifik ketika terinfeksi Ebola. Jadi, jika Anda mengalami kesulitan dalam bernapas dan suhu tubuh meningkat, maka segera lah periksakan ke dokter.
Di Afrika, Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat UI, penularan Ebola, selain diakibatkan kontak dengan manusia juga dapat dengan binatang yang telah mati, seperti antilop, monyet, gorila, dan lainnya. Cairan dari binatang yang sudah mati tersebut tersebut atau dari manusia lewat kontak kulit, terutama jika kulit terluka sedikit.
 

Inilah Bahaya Virus Ebola dan Cara Pencegahannya

 

Ebola adalah sejenis virus dari genus Ebolavirus, familia Filoviridae, dan juga nama dari penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut. Gejala-gejalanya antara lain muntah, diare, sakit badan, pendarahan dalam dan luar, dan demam. Tingkat kematian berkisar antara 80% sampai 100%. Asal kata adalah dari sungai Ebola di Kongo.
Penyakit Ebola dapat ditularkan lewat kontak langsung dengan cairan tubuh atau kulit. Masa inkubasinya dari 2 sampai 21 hari, umumnya antara 5 sampai 10 hari. Saat ini telah dikembangkan vaksin untuk Ebola yang 90% efektif dalam monyet, namun vaksin untuk manusia belum ditemukan. Ebola adalah penyakit yang paling mematikan diseluruh dunia. Kesempatan untuk hidup jika terinfeksi penyakit ini masih 0% alias tidak mungkin, dan sampai sekarang masih dicari vaksinnya. Penderita biasanya bisa langsung meninggal dalam siklus 6 hari sampai 20 hari, alias sangat cepat. Sekarang bisa dikatakan bahwa Ebola adalah penyakit yang paling dihindari untuk terjangkit diseluruh dunia.
Wabah ebola menyebar di seluruh Guinea dan di luar negara tersebut pada bulan Februari dan Maret 2014. Sekurang-kurangnya 750 orang terinfeksi dan 460 di antaranya dilaporkan tewas akibat wabah ini.[2] Sejumlah organisasi, termasuk CDC, Komisi Eropa, dan ECOWAS telah menyumbangkan dana dan mengirimkan personel untuk membantu menanggulangi wabah.

 Sejarah

Pada tahun 1976, seorang pekerja toko di Nzara, Sudan, tiba-tiba sakit. Lima hari berselang, ia meninggal dunia. Dengan kematiannya, dunia tanpa sadar menyaksikan dampak dari virus Ebola pertama pada tanggal 27 Juni 1976.  Virus ini kemudian menjadi wabah di seluruh area tersebut. Dilaporkan terjadi 284 kasus, setengah di antaranya membuat korban sekarat. Gejala dari Ebola hemorrhagic fever (EHV) biasanya dimulai empat hingga 15 hari sesudah seseorang terinfeksi. Rata-rata gejala yang dialami berupa sakit seperti flu, demam tinggi, dan nyeri.
Semua gejala di atas biasanya diikuti dengan diare, muntah, serta kemunculan ruam di seluruh tubuh. Lalu dimulailah gejala menyakitkan seperti keluarnya darah dari semua lubang di tubuh. Dilanjutkan dengan rusaknya organ-organ internal si penderita. Masuk hari ketujuh hingga kesepuluh, muncul rasa kelelahan, dehidrasi, dan shock. Dokter yang merawat para korban awal sadar bahwa virus ini terjadi ketika ada kontak yang cukup dekat. Sebagai contoh, di Rumah Sakit Maridi, Sudan, 33 dari 61 suster yang merawat pasien penderita Ebola, akhirnya ikut tewas karena virus tersebut. Studi yang dilakukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, virus ini memiliki angka kematian sebesar 90 persen. Umumnya berkembang di desa-desa terpencil di Afrika Tengah dan Barat. Virus bermula dari hewan liar yang menularkannya ke manusia hingga akhirnya mematikan bagi populasi manusia. Hewan yang dianggap sebagai inang alaminya adalah kelelawar buah dari famili Pteropodidae. Hingga sekarang, belum ada vaksin penyembuh bagi mereka yang terpapar.
Klasifikasi Ebola
  • Genera ” Ebolavirus” dan ” Marburgvirus” awalnya diklasifikasikan sebagai spesies dari genus ” Filovirus” sekarang tidak ada. Pada Maret 1998, Subkomite Virus vertebrata diusulkan pada Komite Internasional pada taksonomi dari virus (ICTV) untuk mengubah genus ” Filovirus” ” Filoviridae” keluarga dengan dua genera tertentu: ” Virus Ebola-like” dan ” virus Marburg-seperti ”. Proposal ini dilaksanakan di Washington, D.C. sebagai dari April 2001 dan di Paris sebagai Juli 2002. Pada tahun 2000, usulan lain dibuat di Washington, DC untuk mengubah “-seperti virus” untuk “-virus” mengakibatkan hari ini ” Ebolavirus” dan ” Marburgvirus”.
  • Tingkat perubahan genetik seratus kali lebih lambat dari Influenza A pada manusia, tetapi pada besarnya sama yang Hepatitis B. menggunakan angka ini, dan Ebolavirus Marburgvirus diperkirakan telah menyimpang beberapa ribu tahun yang lalu.
  • Zaire virus (ZEBOV): ” Zaire virus”, sebelumnya bernama ” Zaire Ebola Virus”, memiliki tingkat fatalitas kasus tertinggi, hingga 90% pada epidemi, dengan rata-rata kasus tingkat kematian sekitar 83% lebih dari 27 tahun. Ada lebih wabah ” Zaire ebolavirus” dari spesies lain. Serangan pertama terjadi pada 26 Agustus 1976 di Yambuku. Mabalo Lokela, seorang guru sekolah berusia 44 tahun, menjadi kasus pertama yang tercatat. Gejala mirip malaria, dan berikutnya pasien yang menerima Kina. Transmisi awal diyakini karena menggunakan kembali jarum untuk Lokela’s injeksi tanpa sterilisasi. Transmisi berikutnya adalah juga karena kurangnya perawat penghalang dan metode persiapan pemakaman tradisional, yang melibatkan cuci dan pencernaan pembersihan.
    Sudan ebolavirus (SEBOV): virus adalah spesies kedua Ebola yang muncul dengan ” Zaire virus”. Diyakini berasal di antara pekerja pabrik kapas di Nzara, Sudan, dengan kasus pertama yang dilaporkan sebagai seorang pekerja yang terpapar reservoir alami yang potensial. Ilmuwan diuji semua jenis binatang dan serangga dalam menanggapi ini; Namun, tidak ada diuji positif untuk virus. Kapal induk masih belum diketahui. Kurangnya perawatan penghalang memfasilitasi penyebaran penyakit. Pecahnya terbaru terjadi pada Mei 2004. 20 dikonfirmasi kasus yang dilaporkan di Yambio County, Sudan, dengan lima kematian yang dihasilkan. Rata-rata tingkat fatalitas adalah 54% pada tahun 1976, 68% pada tahun 1979 dan 53% pada tahun 2000 dan 2001.
    Reston ebolavirus (REBOV): ditemukan selama pecahnya virus Simian demam hemorrhagic (SHFV) di makan kepiting kera dari Hazleton laboratorium (sekarang Covance) pada tahun 1989. Sejak awal wabah di Reston, itu telah muncul di Filipina, Siena Italia, Texas, dan antara babi di Filipina. Meskipun statusnya sebagai organisme tingkat-4, non-patogenik manusia namun berbahaya di monyet.
  • Cote d’Ivoire ebolavirus (CIEBOV): juga disebut sebagai ” Pantai Gading ebolavirus” dan ” Tai ebolavirus”, itu pertama kali ditemukan di antara simpanse dari Tai hutan di Pantai Gading, Afrika pada 1 November 1994. Pembedahan menunjukkan darah dalam jantung tanda cokelat, tidak jelas terlihat pada organ, dan paru-paru nekropsi yang ditampilkan salah satu yang penuh dengan darah. Penelitian dari jaringan yang diambil dari simpanse menunjukkan hasil mirip dengan kasus manusia selama wabah Ebola 1976 di Zaire dan Sudan. Simpanse mati karena lebih banyak ditemukan, dengan banyak pengujian positif untuk Ebola yang menggunakan teknik molekuler. Sumber kontaminasi diyakini daging terinfeksi Barat merah Colobus monyet, yang simpanse berburu keras. Salah satu ilmuwan yang melakukan pembedahan pada simpanse terinfeksi dikontrak Ebola. Ia mengembangkan gejala-gejala yang mirip dengan demam berdarah demam sekitar seminggu setelah nekropsi, dan dibawa ke Swiss untuk perawatan. Dia dipulangkan dari rumah sakit setelah dua minggu dan telah sepenuhnya pulih enam minggu setelah infeksi.
  • Bundibugyo ebolavirus: pada tanggal 24 November 2007, Departemen Kesehatan Uganda dikonfirmasi wabah Ebola di distrik Bundibugyo. Setelah konfirmasi sampel yang diuji oleh laboratorium rujukan Nasional Amerika Serikat dan CDC, World Health Organization dikonfirmasi kehadiran spesies baru. Pada 20 Februari 2008, Departemen Uganda secara resmi mengumumkan akhir epidemi di Bundibugyo dengan orang terakhir yang terinfeksi habis pada 8 Januari 2008. Uganda pejabat mengkonfirmasi total 149 kasus Ebola spesies baru ini, dengan 37 kematian yang dikaitkan dengan ketegangan (24.83%).
Virologi
  • Struktur virus berupa Elektron micrographs anggota genus ” Ebolavirus” memiliki karakteristik struktur thread-seperti filovirus. EBOV VP30 adalah sekitar 288 asam amino yang panjang. Virions tubular dalam bentuk umum tetapi variabel dalam bentuk keseluruhan dan mungkin muncul sebagai gembala klasik crook atau eyebolt, sebagai ” U” atau ” 6”, atau menjadi, melingkar, atau bercabang. Namun, teknik pemurnian laboratorium, seperti centrifugation, dapat berkontribusi untuk beberapa jenis. Virions yang umumnya 80 nm diameter dengan menembus lipid dua lapis penahan glikoprotein sekitar 7 sampai 10 nm paku panjang dari permukaan. Mereka adalah panjang variabel, biasanya sekitar panjang  800 nm sampai dengan 1000 nm. Di tengah-tengah virion adalah suatu struktur yang disebut ” nucleocapsid”, yang dibentuk oleh komponen-luka virus genom RNA complexed dengan protein NP, VP35, VP30, dan L. Ini memiliki diameter 80 nm dan berisi saluran pusat 20–30 nm in diameter. Dikodekan virally glikoprotein (GP) paku 10 nm panjang dan 10 nm terpisah yang hadir di luar amplop virus virion, yang berasal dari membran sel yang di-host. Antara amplop dan nucleocapsid, di ruang disebut matriks, protein viral VP40 dan VP24 berada.
    Genom
  • Virion masing-masing berisi satu molekul linear tunggal, negatif-sense RNA, 18,959 untuk 18,961 nukleotida panjangnya. Ujung 3 ‘ tidak polyadenylated dan ujung 5 ‘ tidak tertutup. Ditemukan nukleotida 472 dari ujung 3′ dan 731 nukleotida dari 5′ akhir yang cukup untuk replikasi. Kode untuk tujuh struktural protein dan satu non-struktural protein. Urutan gen merupakan 3 ‘ – pemimpin – NP – VP35 – VP40 – GP/sGP – VP30 – VP24 – L – trailer – 5 ‘; dengan pemimpin dan trailer menjadi non-ditranskripsi daerah, yang membawa sinyal penting untuk mengontrol transkripsi, replikasi, dan kemasan genom virus ke dalam virions baru. Materi genomik dengan sendirinya tidak menular, karena protein viral, di antara mereka bergantung RNA RNA polimerase, diperlukan untuk menuliskan genetika virus ke mRNAs, serta untuk replikasi genetika virus.
  • Replikasi Virus tidak tumbuh melalui pembelahan sel, karena mereka tidak sel (aselular); Sebaliknya, mereka menggunakan mesin dan metabolisme sel untuk menghasilkan beberapa salinan dari diri mereka sendiri, dan mereka berkumpul di sel.
Penyebaran

  • Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 1.600 orang di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone telah terinfeksi virus ebola. Ini merupakan wabah terbesar sepanjang sejarah. Lebih dari setengahnya telah meninggal. Dua pekerja kemanusiaan asal Amerika Serikat terinfeksi ebola ketika bekerja di Afrika Barat. Saat ini, keduanya telah mendapatkan penanganan di Atlanta, AS.
  • Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat, umumnya gejala muncul sekitar delapan hingga 10 hari setelah seseorang terpapar virus. Gejala awalnya adalah pusing, demam, dan nyeri. Terkadang muncul ruam-ruam di tubuh penderita. Hal ini diikuti dengan diare dan muntah-muntah. Kemudian, berdasarkan lebih dari 50 persen kasus yang ada, virus ebola menyerang secara mengerikan. Penderita mengalami muntah darah atau kencing darah. Selain itu, keluar darah dari kulit, mata, atau mulut penderita. Namun, bukan ini yang menyebabkan penderita meninggal, melainkan ketika pembuluh darah di dalam tubuh mengeluarkan cairan. Hal ini menyebabkan tekanan darah menurun secara tajam sehingga hati, ginjal, jantung, dan organ lainnya berhenti bekerja.
  • Manusia tidak serta-merta tertular ebola ketika berdekatan dengan seseorang yang terinfeksi. Ebola tidak seperti virus influenza ataupun Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Seseorang terinfeksi virus ebola melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita. Hal ini terjadi ketika cairan tubuh seperti muntah atau darah penderita mengenai mata, hidung, atau mulut orang lain.  Orang-orang yang terinfeksi adalah mereka yang merawat saudaranya yang terinfeksi, atau menyiapkan jenazah yang akan dikebumikan. Orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan berisiko tinggi tertular, utamanya mereka yang tidak terlatih atau tidak dilengkapi perlengkapan yang wajar.
  • Virus ebola dapat bertahan hidup di permukaan benda. Maka dari itu, benda apa pun yang terkontaminasi dengan cairan tubuh penderita, seperti sarung tangan karet ataupun jarum suntik, dapat menjadi media penularan virus tersebut.
  • Di beberapa daerah di Afrika Selatan, ada kepercayaan bahwa ketika seseorang menyebut kata “ebola” dengan keras, maka seketika itu juga virus tersebut muncul. Kepercayaan ini menyebabkan para dokter, seperti Doctors Without Borders, sulit memeranginya. Bahkan, sebagian anggota masyarakat menyalahkan dokter sebagai pihak yang menyebarkan virus. Mereka yang terinfeksi memilih pergi ke dukun untuk mendapatkan pengobatan. Sikap skeptis mereka bukan tanpa sebab. Pada masa lalu, pekerja rumah sakit yang tidak berhati-hati malah menjadi agen penyebaran virus tersebut.
  • Pada tahun 1976 dan 1998, dari 30.000 Mamalia, burung, reptil, amfibia dan arthropoda sampel dari daerah wabah , tidak terdeteksi ” Ebolavirus” selain beberapa materi genetik yang ditemukan di enam tikus (” Mus setulosus” dan ” Praomys”) dan satu pemberang (” Sylvisorex ollula”) dikumpulkan dari Republik Afrika Tengah.
  • Virus justru terdeteksi di bangkai gorila, simpanse dan duikers selama wabah pada tahun 2001 dan 2003, yang kemudian menjadi sumber infeksi manusia. Namun, kematian yang tinggi dari infeksi pada spesies ini membuat mereka tidak mungkin sebaga sumbek alami.
  • Kelelawar diketahui berada di pabrik kapas di mana indeks kasus untuk 1976 dan 1979 wabah yangterjadi, dan mereka juga telah terlibat dalam infeksi pada tahun 1975 dan 1980. Tidak adanya tanda-tanda klinis pada kelelawar ini adalah karakteristik spesies reservoir. Dalam sebuah survei 2002–2003 1,030 hewan yang termasuk 679 kelelawar dari Gabon dan Republik Kongo, 13 buah kelelawar yang ditemukan mengandung ” Ebolavirus” RNA. Pada tahun 2005, tiga spesies kelelawar (” Hypsignathus monstrosus”, ” Epomops franqueti” dan ” Myonycteris torquata”) telah diidentifikasi sebagai membawa virus tetap asimtomatik. Mereka diyakini menjadi alami spesies, atau reservoir, virus.
  • Reston ebolavirus-tidak seperti rekan-rekan Afrika-non-patogenik, non-mematikan pada manusia. Telah didokumentasikan dalam simpanse dan babi; Walaupun kematian yang tinggi di antara monyet, dan kemunculannya baru-baru ini di babi, membuat mereka tidak mungkin alam waduk.
  • Buah-buahan yang jatuh sebagian dimakan kelelawar dan pulp, mamalia darat seperti gorila dan duikers makan buah-buahan yang jatuh ini. Rantai peristiwa-peristiwa membentuk cara tidak langsung yang mungkin untuk transmisi dari host alami pada populasi hewan, yang telah memimpin penelitian terhadap virus penumpahan pada air ludah dari kelelawar. Buah produksi, perilaku hewan, dan faktor lainnya bervariasi pada waktu yang berbeda dan tempat-tempat yang dapat memicu wabah di antara populasi hewan. Transmisi antara waduk alam dan manusia langka, dan wabah biasanya dilacak ke indeks satu kasus di mana seorang individu telah menangani bangkai gorila, simpanse, atau duiker. Virus kemudian menyebar dari manusiake anusia, terutama dalam keluarga, rumah sakit, dan selama beberapa ritual mayat di mana kontak di antara individu menjadi lebih mungkin.
  • Virus telah dikonfirmasi untuk ditransmisikan melalui cairan-cairan tubuh. Transmisi melalui eksposur lisan dan melalui conjunctiva eksposur mungkin, yang telah dikonfirmasi pada primata non-manusia. Filoviruses tidak alami ditransmisikan oleh aerosol. Penyakit ini sangat menular melalui saluran rnapas 0,8-1.2 mikron tetesan dalam laboratorium; karena dari rute ini potensi infeksi virus ini telah diklasifikasikan sebagai senjata biologis Kategori A.
  • Semua epidemi Ebola terjadi dalam kondisi rumah sakit kecil, di mana praktek-praktek kesehatan  yang tidak terlalu baik hygiene dan sanitasi  di mana pemakaian jarum disposabel dan autoclaves tidak tersedia atau terlalu mahal. Di rumah-sakit modern dengan sekali pakai jarum dan pengetahuan dasar kebersihan dan pengetahuan  Tehnik Keperawatan tidak menyebar dalam skala besar.
  • Dalam pengaturan terisolasi seperti rumah sakit quarantined atau desa, sebagian besar korban yang terinfeksi tak lama setelah ada kasus pertama dari infeksi. Cepat timbulnya gejala dari waktu menjadi penyakit menular pada individu membuatnya mudah untuk mengidentifikasi individu-individu yang sakit dan membatasi kemampuan individu untuk menyebarkan penyakit dengan perjalanan. Karena tubuh mayat penderita masih menular, beberapa dokter harus mengambil langkah-langkah untuk benar membuang mayat-mayat dalam cara yang aman meskipun ritual pemakaman tradisional lokal.
  • Wabah Ebola, dengan pengecualian dari Reston ebolavirus, terutama telah dibatasi ke Afrika. Virus sering mengkonsumsi penduduk, pemerintah dan individu dengan cepat menanggapi untuk karantina daerah, dan kurangnya jalan dan transportasi-membantu untuk mengandung pecahnya.
Gejala
  • Periode inkubasi-nya dapat berkisar dari 2 sampai 21 hari tetapi umumnya 5-10 hari. Gejala bervariasi dan sering muncul tiba-tiba. Awal gejala termasuk demam tinggi (setidaknya 38.8 ° C, 101.8 ° F), sakit kepala parah, otot, bersama, atau sakit perut, kelemahan parah, kelelahan, sakit tenggorokan, mual, pusing, internal dan eksternal pendarahan. Sebelum pecahnya dugaan, gejala-gejala awal ini dengan mudah keliru untuk malaria, demam tipus, disentri, influenza, atau berbagai infeksi bakteri, yang semua jauh lebih umum dan dapat diandalkan kurang fatal.
  • Ebola dapat berkembang menjadi gejala yang lebih serius, seperti diare, berak darah atau gelap, muntah darah, mata merah distension dan pendarahan arteriola sclerotic, petechia, penyakit ruam dan purpura.
  • Gejala lain, sekunder termasuk hipotensi (tekanan darah rendah), hypovolemia dan tachycardia. Interior pendarahan yang disebabkan oleh reaksi antara virus dan platelet yang memproduksi bahan kimia yang akan dipotong sel-ukuran lubang dinding kapiler.
  • Kadang-kadang timbul pendarahan luar dan dalam dari lubang hidung dan mulut, juga dapat terjadi, juga dari luka-luka yang sembuh belum sepenuhnya diketahui cirinya seperti jarum-lubang situs.
  • Virus Ebola dapat mempengaruhi sel darah putih dan platelet, mengganggu pembekuan. Lebih dari 50% dari pasien akan mengalami perdarahan hebat.

Diagnosis

  • Metode diagnosis Ebola termasuk pengujian sampel air liur dan urin. Ebola didiagnosis dengan tes Enzyme-Linked ImmunoSorbent Assay (ELISA). Metode diagnosis ini telah menghasilkan hasil yang berpotensi ambigu selama situasi non-wabah.
  • Evaluasi uji Dr Karl Johnson dari CDC diuji San Blas Indian dari Amerika Tengah, yang tidak punya sejarah Ebola infeksi, dan mengamati 2% hasil positif. Peneliti lain kemudian diuji sera dari penduduk asli Amerika di Alaska dan menemukan persentase yang sama hasil positif. Untuk memerangi positif palsu, tes lebih kompleks yang didasarkan pada sistem ELISA dikembangkan oleh Tom Kzaisek di USAMRIID, yang kemudian diperbaiki dengan antibodi Immunofluorescent analisis (IFA). Namun tidak digunakan selama serosurvey mengikuti Reston. Tes ini tidak tersedia secara komersial.
Penanganan
  • Perawatan terutama untuk menunjang dan meminimalkan prosedur invasif, menyeimbangkan elektrolit, dan, karena pasien sering mengalami dehidrasi, menggantikan kehilangan kaskade faktor pendarahan, mempertahankan tingkat oksigen dan darah, dan memperlakukan semua infeksi yang rumit.
  • Pusat plasma menunjukkan pengobatan yang menjajikan untuk penyakit ini
  • Ribavirin tidak efektif.
  • Interferon juga dianggap tidak efektif.
  • Dalam percobaan monyet, pemberian inhibitor kaskade (rNAPc2) telah menunjukkan beberapa manfaat, melindungi 33% dari hewan yang terinfeksi dari biasanya 100% (untuk monyet) mematikan infeksi (Namun, inokulasi ini tidak bekerja pada manusia).
  • Pada awal 2006, para ilmuwan di USAMRIID mengumumkan tingkat 75% pemulihan setelah menginfeksi empat Monyet rhesus dengan ” Ebolavirus” dan pemberian obat-obatan antisense Morpholino. Pengembangan antisense Morpholino peningkatan conjugated dengan sel menembus peptida yang sedang berlangsung.
  • Saat ini, belum ada vaksin atau obat untuk ebola. Ketika wabah sebelumnya terjadi, sebanyak 60-90 persen penderita meninggal. Sejauh ini, hal yang dilakukan dokter adalah merawat penderita, menggunakan cairan dan obat-obatan untuk menjaga tekanan darah tetap normal. Para dokter juga memberikan pengobatan lainnya ketika infeksi ini menyerang tubuh pasien yang semakin lemah. Sebagian kecil orang ternyata memiliki imunitas terhadap virus ebola.
Vaksin
  • Sampai saat ini belum ada vaksin yang bisa melindungi manusia dari penyakit yang ganas ini. Apalagi infeksi yang sedang merebak di Afrika sekarang ini telah memakan korban lebih dari 1000 orang. WHO mencatat, ini merupakan infeksi ebola terbesar sepanjang sejarah. Infeksi ebola sebenarnya merupakan penyakit yang jarang. Itu sebabnya perusahaan farmasi belum terlalu tertarik melakukan investasi untuk melakukan riset vaksinnya.
  • Menurut Dr.Willian Schaffner dari Vanderbilt University di Nashville, AS, karena termasuk langka, para ilmuwan juga kesulitan untuk melakukan studi di bidang ini. “Berbeda dengan virus cacar karena bisa menemukan orang yang terpapar penyakit ini di mana pun,” ujarnya. Sebelum terjadi wabah, sejak virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1976 hanya ada 2000 kasus. Tetapi ketika penyakit ini mewabah, sejak awal tahun sudah ada 1.323 orang di 3 negara yang terinfeksi dan 729 diantaranya meninggal dunia.
  • Situasi gawat yang kini terjadi di Afrika tersebut mendorong lebih dari 4.500 orang menandatangani petisi di Change.org agar lembaga pengawas obat dan makanan AS (FDA) lebih cepat membuat vaksin ebola dan obatnya.  Menurut Dr.Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease, sebenarnya sejak bulan Maret lalu sudah dilakukan penelitian untuk pengembangan vaksin ebola. “Vaksin tersebut sudah diuji pada kera dan pada bulan September nanti akan masuk pada tahap 1 uji klinis pada manusia. Diperkirakan pada pertengahan tahun 2015 sudah tersedia vaksin meski dalam jumlah terbatas, untuk para tenaga kesehatan,” katanya.  Fauci menjelaskan, dalam uji klinis tersebut para responden tidak akan diberikan paparan virus ebola, namun mereka akan diberi dosis vaksin untuk dilihat level antibodinya apakah sesuai dengan level pada penelitian kera. Para ilmuwan juga akan bisa mengetahui keamanan vaksin ini.
  • Menurut Guru Besar Virus dan Biologi Molekuler Universitas Udayana, Bali, Gusti Ngurah Mahardika, sebenarnya bukan hanya ebola yang diabaikan para ilmuwan, tapi juga penyakit flu burung, rabies, dan HIV/AIDS. ”Penyakit ini terjadi di negara berkembang sehingga cenderung tidak mendapat perhatian dari peneliti-peneliti Eropa atau AS. Ini dicuekin. Risetnya tidak cukup gencar dilakukan,” ujar Ngurah seperti dilansir KOMPAS (2/8/14). Selain itu, tambahnya, mencari hewan model untuk kondisi manusia itu sulit. ”Penyakit itu di manusia terjadi dengan hebatnya, sementara pada hewan tidak demikian parah,” katanya. Selain itu, faktor ekonomi juga memengaruhi. ”Ekonomi di negara berkembang terbatas,” katanya lagi
  • Vaksin telah berhasil melindungi primata non-manusia, namun enam bulan yang diperlukan untuk menyelesaikan imunisasi yang membuat tidak praktis dalam sebuah epidemi. Untuk mengatasi masalah ini pada tahun 2003 vaksin yang menggunakan adenoviral (ADV) vektor membawa Ebola spike protein diuji pada makan kepiting kera. Monyet-monyet yang terjangkit dengan virus Duapuluh Delapan hari kemudian, dan tetap tahan.
  • Pada tahun 2005 vaksin yang didasarkan pada stomatitis vesicular rekombinan berasal dari selubung virus (VSV) vektor membawa Ebola glikoprotein atau glikoprotein Marburg berhasil dilindungi primata non-manusia, membuka uji klinis pada manusia. Pada bulan Oktober studi selesai sidang manusia pertama yang memberikan tiga vaksinasi selama tiga bulan menunjukkan kemampuan aman merangsang respon imun. Individu diikuti selama setahun, dan pada tahun 2006 sebuah studi pengujian lebih cepat bekerja, satu pemberian vaksin mulai. Studi ini dijadwalkan selesai tahun 2008
Prognosis
  • Ebola demam hemorrhagic sangat mematikan dan mencakup berbagai gejala termasuk demam, muntah, diare, sakit umum atau malaise, dan kadang-kadang pendarahan internal dan eksternal.
  • Rentang waktu dari onset gejala mati adalah biasanya antara 2 dan 21 hari.
  • Pada minggu kedua infeksi, pasien akan baik defervesce (the demam akan mengurangi) atau mengalami kegagalan sistemik multi-organ.
  • Tingkat kematian biasanya tinggi, dengan tingkat fatalitas kasus manusia yang berkisar 50–89%, tergantung pada spesies atau strain virus. Penyebab kematian ini biasanya disebabkan oleh kegagalan shock atau organ hypovolemic.
Referensi
  • Hensley LE, Stevens EL, Yan SB, Geisbert JB, Macias WL, Larsen T, et al. Recombinant human activated protein C for the postexposure treatment of Ebola hemorrhagic fever. J Infect Dis. Nov 15 2007;196 Suppl 2:S390-9.
  • Geisbert TW, Hensley LE, Jahrling PB, Larsen T, Geisbert JB, Paragas J, et al. Treatment of Ebola virus infection with a recombinant inhibitor of factor VIIa/tissue factor: a study in rhesus monkeys. Lancet. Dec 13 2003;362(9400):1953-8
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Travel Health Notices. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Available at http://wwwnc.cdc.gov/travel/notices. Accessed July 30, 2014.
  • Sanchez A, Trappier SG, Mahy BW, Peters CJ, Nichol ST. The virion glycoproteins of Ebola viruses are encoded in two reading frames and are expressed through transcriptional editing. Proc Natl Acad Sci U S A. Apr 16 1996;93(8):3602-7.
  • Leroy EM, Baize S, Volchkov VE, Fisher-Hoch SP, Georges-Courbot MC, Lansoud-Soukate J, et al. Human asymptomatic Ebola infection and strong inflammatory response. Lancet. Jun 24 2000;355(9222):2210-5.
  • Roddy P, Howard N, Van Kerkhove MD, Lutwama J, Wamala J, Yoti Z, et al. Clinical manifestations and case management of Ebola haemorrhagic fever caused by a newly identified virus strain, Bundibugyo, Uganda, 2007-2008. PLoS One. 2012;7(12):e52986.
  • Amblard J, Obiang P, Edzang S, Prehaud C, Bouloy M, Guenno BL. Identification of the Ebola virus in Gabon in 1994. Lancet. Jan 18 1997;349(9046):181-2.
  • Swanepoel R, Leman PA, Burt FJ, Zachariades NA, Braack LE, Ksiazek TG, et al. Experimental inoculation of plants and animals with Ebola virus. Emerg Infect Dis. Oct-Dec 1996;2(4):321-5.
  • Johnson E, Jaax N, White J, Jahrling P. Lethal experimental infections of rhesus monkeys by aerosolized Ebola virus. Int J Exp Pathol. Aug 1995;76(4):227-36.
  • Allela L, Boury O, Pouillot R, Delicat A, Yaba P, Kumulungui B, et al. Ebola virus antibody prevalence in dogs and human risk. Emerg Infect Dis. Mar 2005;11(3):385-90.
  • Baize S, Pannetier D, Oestereich L, Rieger T, Koivogui L, Magassouba N, et al. Emergence of Zaire Ebola Virus Disease in Guinea – Preliminary Report. N Engl J Med. Apr 16 2014
  • Alsop Z. Ebola outbreak in Uganda “atypical”, say experts. Lancet. Dec 22 2007;370(9605):2085.
  • Barrette RW, Metwally SA, Rowland JM, Xu L, Zaki SR, Nichol ST, et al. Discovery of swine as a host for the Reston ebolavirus. Science. Jul 10 2009;325(5937):204-6.
  • Shoemaker T, Macneil A, Balinandi S, Campbell S, Wamala JF, McMullan LK, et al. Reemerging Sudan ebola virus disease in Uganda, 2011. Emerg Infect Dis. Sep 2012;18(9):1480-3.
  • Geisbert TW, Jahrling PB. Differentiation of filoviruses by electron microscopy. Virus Res. Dec 1995;39(2-3):129-50.
  • Huggins J, Zhang ZX, Bray M. Antiviral drug therapy of filovirus infections: S-adenosylhomocysteine hydrolase inhibitors inhibit Ebola virus in vitro and in a lethal mouse model. J Infect Dis. Feb 1999;179 Suppl 1:S240-7.
  • Smith LM, Hensley LE, Geisbert TW, Johnson J, Stossel A, Honko A, et al. Interferon-ß Therapy Prolongs Survival in Rhesus Macaque Models of Ebola and Marburg Hemorrhagic Fever. J Infect Dis. Jan 15 201
  • Sullivan NJ, Sanchez A, Rollin PE, Yang ZY, Nabel GJ. Development of a preventive vaccine for Ebola virus infection in primates. Nature. Nov 30 2000;408(6812):605-9.
  • Geisbert TW, Pushko P, Anderson K, Smith J, Davis KJ, Jahrling PB. Evaluation in nonhuman primates of vaccines against Ebola virus. Emerg Infect Dis. May 2002;8(5):503-



MAKALAH “Madeleine Leininger“ Keperawatan

BAB IPENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Keperawatan merupakan bentuk pelayanan kesehatan profesional dan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual secara komprehensif ditujukan kepada individu, keluarga, masyarakat mencakup seluruh daur hidup manusia.
Keperawatan mempunyai fokus intervensi memberikan bantuan karena adanya kelemahan fisik, mental, keterbatasan pengetahuan dan kurangnya kemampuan yang merupakan respon dari masalah baik yang aktual maupun potensial yang ditujukan bagi pemenuhan kebutuhan klien.
Praktek keperawatan dipengaruhi oleh tuntutan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat sebagai komponen dalam masyarakat terdiri dari berbagai tingkat usia. Karena keperawatan mempunyai damain yaitu pemenuhan kebutuhan dasar manusia maka menghadapi satu individu dengan individu lain tidak sama karena manusia itu adalah makhluk unik sehingga dalam pendekatannya pun harus berdasarkan tingkat perkembangan individu itu sendiri yang tentunya berbeda dengan tingkat usianya.
Salah satu pendekatan praktek keperawatan adalah dengan menggunakan teori atau model Madeleine Leininger .yang membangun teori transcultural nursing pada premise bahwa individu-individu setiap kultur tidak hanya tahu dan menentukan cara yang mereka alami dan rasakan dalam asuhan keperawatan tapi juga pengalaman-pengalaman dan persepsi ini untuk kepercayaan-kepercayaan dan praktek terhadap kesehatan mereka secara umum. Pada makalah ini penulis mencoba untuk menerapkan teori model Madeleine Leininger sehingga memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif.

1.2  Tujuan Penulisan
Mahasiswa memahami dan mampu menerapkan asuhan keperawatan berdasarkan pendekatan teori model Madeleine Leininger.

1.3  Metode Penulisan
Metode penulisan dalam pembuatan makalah ini adalah dengan menggunakan studi kepustakaan
1.4  Sistematika Penulisan

BAB I       :           PENDAHULUAN

BAB II      :           TINJAUAN TEORI
BAB III    :           ASUHAN KEPERAWATAN

BAB IV    :           KESIMPULAN


 BAB II
TINJAUAN TEORI


2.1 Teori Keperawatan “ Madeleine Leininger “
            Madeleine Leininger adalah perawat profesional pertama di dunia yang memperoleh gelar doktor dalam bidang antropologi dan mengembangkan transkultur nursing sebagai sub bagian dari keperawatan. Pendidikan madeleine leininger yaitu beliau lulus pendidikan dasar keperawatan  pada tahun 1948 dari St. Anthony’s school of Nursing, Denver, Bachelor of Science dari Benedictine College, Atchison pada tahun 1950, Master Of Science dalam keperawatan dari catholic University, Washington DC pada tahun 1953, PhD dalam bidang Antropology dari University of Washington, Seatle 1965.
            Pada saat dia bekerja pada penasehat anak di midwestern United States (tahun 1950), Leininger mengalami “Cultural Shock”. Ketika dia bekerja sebagai perawat specialis di klinik dengan anak-anak yang terganggu dan orang tuanya, dia mengobservasi perilaku-perilaku yang berbeda diantara anak-anak tersebut dan menyimpulkan bahwa perbedaan-perbedaan ini didasarkan pada budaya / kultur. Dia mengidentifikasi kurangnya pengetahuan tentang kultur anak-anak sebagai link yang hilang dalam keperawatan untuk mengerti variasi-variasi dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien.
            Leininger menggunakan istilah-istilah “ Transcultural Nursing”, “Ethnonursing”, dan “Cross Cultural Nursing”. 
teori yang telah dibangun oleh Madeleine Leininger adalah Transcultural Nursing dimana pada tahun 1979 Leininger mendefinisikannya sebagai cabang dari keperawatan yang memfokuskan pada studi komparatif  dan analisis kultur berkenaan dengan keperawatan dan praktek asuhan sehat-sakit, keyakinan-keyakinan, dan nilai-nilai dengan tujuan untuk memberikan makna dan kemanjuran pelayanan asuhan keperawatan untuk individu sesuai dengan nilai-nilai kultur dan keadaan sehat-sakit.
            Leininger mendefinisikan Ethnonursing sebagai studi kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, praktek asuhan keperawatan sebagai mengerti/ merasa dan tahu tentang kultur melalui pengalaman langsung, keyakinan-keyakinan, dan sistem nilai.
            Leininger mempunyai beberapa konsep yaitu diantaranya tentang budaya, nilai-nilai budaya, cultural care diversity, cultural care university, cultural care, world view, social structure, kontek lingkungan, sistem kesehatan, sistem kesehatan profesional, care, cultural care preservation, cultural care accomodation, cultural care reppatterning dan tambahan yaitu keperawatan adalah transcultural care proffesion, dimana secara satu persatu konsep tersebut akan dijelaskan.
            Budaya adalah mempelajari, membagi dan memindahkan nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, norma-norma, dan praktek kehidupan kelompok-kelompok utama yang mengarahkan pemikiran, keputusan, dan tindakan-tindakan dengan cara yang terpola. Berdasarkan asumsi bahwa manusia adalah manusia berbudaya dan mempunyai kemampuan untuk hidup lebih lama melalui kemampuan mereka untuk merawat orang lain untuk semua tingkat usia pada berbagai lingkungan dan berbagai cara.
            Nilai-nilai budaya dibawa dari budaya dan mengidentifikasi keinginan pengakuan dan diketahui. Nilai-nilai ini sering dianut oleh suatu budaya untuk waktu tertentu dan memberikan arahan untuk membuat keputusan untuk anggotabudaya tersebut. Nilai-nilaibisa bermacam-macam atau universal (umum).
            Cultural care diversity menunjukan “ bervariasinya makna, pola-pola, nilai-nilai atau simbol-simbol asuhan yang secara budaya dibawa oleh masyarakat untuk kesejahteraannya atau untuk meningkatkan kondisi manusia dan kehidupan atau menghadapi kematian.
            Cultural care university merujuk kepada umum, serupa atau seragam maksud, pola, nilai atau simbol asuhan yang secara budaya dibawa oleh masyarakat untuk kesejahteraan atau untuk meningkatkan kondisi manusia dan kehidupan atau menghadapi kematian. Perawatan dapat diperlihatkan dengan bermacam-macam ekspresi, tindakan, pola, gaya hidup dan arti.
            Cultural care didefinisikan sebagai nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, pengungkapan-pengungkapan yang terpola yang membantu, mendukung atau memampukan individu lain atau kelompok untuk memelihara kesehatannya, meningkatkan kondisi manusia atau kehidupan atau menghadapi kematian dan kecacatan. Berdasarkan asumsi bahwa cultural care adalah pengertian yang luas untuk mengetahui, menjelaskan, menjumlahkan, dan memprediksi fenomena asuhan keperawatan dan untuk mengarahkan praktek asuhan keperawatan.
            World view (pandangan dunia), dimana manusia melihat atau memandang dunia, berbentuk gambar atau pandangan tentang dunia atau kehidupannya.
            Social structure didefinisikan sebagai pelibatan faktor-faktor struktural dan organisasional alami yang dinamis pada budaya utama (masyarakat) dan bagaimana faktor-faktor ini berfungsi untuk memberikan arti dan struktural order termasuk agama, kekeluargaan, politik, ekonomi, pendidikan, teknologi dan faktor-faktor budaya.
            Kontek lingkungan secara total adalah kejadian-kejadian, situasi atau pengalaman utama yang memberikan maksud/arti untuk manusia berekspresi di dalam interaksi sosial, fisikal, ekologikal, emosional, dan dimensikultural. Arti dari pengetahuan dan praktek berasal dari nilai-nilai dunia, faktor-faktor sosial, nilai-nilai budaya, kontek lingkungan dan pengguna bahasa adalah penting untuk mengarahkan keperawatan dan tindakan-tindakan dalam memberikan asuhan yangsesuai.
            Sistem kesehatan (kesehatan rakyat) adalah asuhan kesehatan traditional atau lokal atau praktek-praktek pengobatan yang mempunyai arti special dan menggunakan penyembuhan untuk membantu sesorang.
            Kesehatan adalah keadaan sejahtera yang secara budaya didefinisikan, penilaian dan praktek yang merefleksikan kemampuan individu (kelompok) untuk melaksanakan peran aktifitassehari-harinya dengan cara memuaskan.
            Sistem kesehatan profesional didefinisikan sebagai asuhan profesional dan tawaran pelayanan pengobatan oleh bermacam-macam jenis tenaga kesehatan yang dipersiapkan melalui program profesioanl yang formal pada institusi pendidikan special. Dengan asumsi bahwa semua budaya mempunyai praktek pelayanan kesehatan profesional dan traditional.
            Care (asuhan) sebagai kata benda didefinisikan sebagai suatu fenomena yang berhubungan dengan bantuan, dukungan, atau perilaku untuk memampukan individu atau kelompok dengan petunjuk atau kebutuhan yang diantisipasi atau meningkatkan kondisi atau kehidupan manusia. Asuhan diasumsikan sebagai suatu yang dominan, merupakan kesatuan dan pusat domain keperawatan, sedangkan cure tidak dapat terjadi secara efektif tanpa care, tapi care bisaterjadi tanpa cure.anggapan yang berhubungan dengan asuhan atau keperawatan adalah penting untuk kehidupan manusia, perkembangannyadan kemampuan untuk menghadapi kejadian-kejadian kritis dalam kehidupan, termasuk penyakit, kecacatan, dan kematian.
            Cultural care preservation diketahui sebagai pemeliharaan yang meliputi bantuan, dukungan, atau memampukan tenaga kesehatan dalam tindakan-tindakan, dan keputusan untuk membantu klien pada budaya tertentu dalam memelihara kesehatan atau memulihkan dari sakit atau menghadapi kematian.
            Cultural care accomodation diketahui sebagai negoisasi di dalam memberikan bantuan, dukungan, atau memampukan tenaga kesehatan profesional dalam bertindak dan membuat keputusan untuk membantu klien pada budaya tertentu beradaptasi pada atau negoisasi yang bermanfaat, atau status kesehatan yang memuaskan, atau menghadapi kematian.
            Cultural care repatterning atau restrukturisasi meliputi bantuan, dukungan, atau memampukan tenaga kesehatan profesional dalam bertindak dan membuat keputusan untuk membantu klien merubah cara hidupnya dengan cara baru atau pola yang berrbeda yang secara budaya bermakna dan memuaskan atau mendukung kemanfaatan pola hidup yang sehat.
            Transcultural care profession (asuhan profesi antar budaya ) perawat memberikan asuhan kepada individu dari berbagai budaya yang berbeda dengan atau tanpa transcultural perspective. Untuk lebih efektif, logis, dan relevan untuk bermacam-macam individu di dunia, keperawatan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang berdasarkan transcultural. Asuhan keperawatan yang berdasarkan budaya adalah faktor kritis untuk peningkatan dan pemeliharaan kesehatan yang efektif, seperti pemulihan dari sakit dan kecacatan.

BAB  III
PEMBAHASAN


3.1   Kasus
Tn. D (26 th) dan Ny. Y (18 th) baru menikah sekitar 6 bulan yang lalu dan sekarang ini Ny. Y tengah mengandung 2 bulan. Ketika perawat mengunjungi keluarga muda tersebut, Ny. Y mengatakan bahwa ia mual dan muntah-muntah sehingga ia malas untuk makan karena ia khawatir semakin ia makan akan semakin hebat rasa mual dan muntah yang dideritanya. Ia pun mengatakan bahwa ia bingung bagaimana nanti ia mengasuh anaknya dan tidak yakin dapat menjadi ibu yang baik Karena ia merasa masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu yang baik karena ia merasa masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu.
Ketika ditanyakan mengenai pemeriksaan kesehatan yang telah dilakukannya, Ny. Y mengatakan bahwa ia belum pernah memeriksakan kandungannya kepada pelayanan kesehatan karena rasa malas bepergian kemana-mana. Pada pertemuan selanjutnya perawat berkesempatan   untuk bertemu dengan Tn D. dari hasil  pengkajian didapatkan bahwa Tn. D berbahagia akan kehamilan istrinya dan menganggap bahwa malas makan akibat mual-muntah yang dialami istrinya adalah hal yang wajar terjadi pada wanita hamil. Tn D pun tidak menganjurkan istrinya untuk memeriksakan kandungannya ke pelayanan kesehatan karena ia yakin kandungan istrinya baik-baik saja. Tn D mengatakan bahwa orang tuanya pun dulu tidak pernah memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan, tetapi semuanya berjalan baik-baik saja.










3.2  DATA PENGKAJIAN
I.                   Data umum
1.      Nama Kepala Keluarga                 : Tn. D
2.      Alamat dan telephon                     : Jl. Kolonel Akhmadsyam no. 60 jatinangor.
Telp : 022 410756
3.       Pekerjaan Kepala Keluarga          : Pegawai Negeri
4.      Pendidikan Kepala Keuarga         : D III
5.      Komposisi keluarga                       :
No
Nama
JK
Hubungan
Umur
Pendidikan
Ket
1
2
Tn. D
Ny. Y
Lk
Pr 
Suami 
Istri
26 th
18 th
D III
SMA
KK
Anggota

II.  Riwayat tahap perkembangan keluarga
11.  Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga dengan pasangan baru (beginning family)
12.  Tahap perkembangan yang belum terpenuhi
Memiliki keturunan melalui program Keluarga berencana

13.  Riwayat keluarga inti
·         Dalam keluarga saat ini  tidak ditemukan penyakit menular dan penyakit keturunan
·         Istri Tn. D sedang hamil 2 bulan dan saat ini mengeluh mual dan muntah
·         Tn. D belum pernah membawa istrinya berobat ke puskesmas
·         Pengalaman keluarga terhadap pelayanan kesehatan baik


14.  Riwayat kesehatan sebelumnya
Tn. D dan istri tidak pernah menderita penyakit menular maupun keturunan

        III.Lingkungan
15.  Karakteristik rumah
·         Luas rumah                 : 600 m2
·         Type rumah                 : 36
·         Jumlah ruangan           : 7
·         Jumlah jendela            : 6 buah
·         Jarak sumber air dengan septik tank   : 10 meter
·         Sumber air minum yang digunakan adalah sumur bor
·         Ruangan rumah tertata dengan rapi

16.  Karakteristik tetangga dan komunitas
Keluarga tinggal di lingkungan masyarakat yang memegang teguh adat istiadat setempat, misalnya ; kebiasaan bergotong royong, pertemuan rukun tetangga, Lingkungan fisik tempat keluarga tinggal cukup bersih dan nyaman. Sebagian besar kegiatan dari kepala keluarga ditempat tinggal tersebut adalah bekerja di pagi hari.

17.  Mobilitas geografis keluarga
Keluarga tidak berpindah tempat tinggal

18.  Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga berkumpul biasanya setelah kepala keluarga pulang bekerja pada waktu sore hari. Sedangkan dalam berinteraksi dengan masyarakat berjalan baik dan kepala keluarga sering mengikuti pertemuan rukun tetangga maupun rukun warga


19.  Sistem pendukung keluarga
Dalam keluarga hanya terdapat dua orang yang tinggal serumah yaitu; Tn. D dan istrinya. Dalam menjangkau pelayanan kesehatan, keluarga memiliki sarana berupa sebuah sepeda motor. Dan apabila ada salaah satu anggota keluarga yang sakit, kepala keluarga segera membawa anggota yang sakit ke tempat pelayanan kesehatan.

      IV. Struktur Keluarga
20.  Pola komunikasi keluarga
Cara berkomunikasi yang digunakan dalam keluarga adalah komunikasi verbal dengan jenis komunikasi fungsional.

21.  Struktur kekuatan keluarga
Kepala keluarga termasuk aktif disalah satu organisasi masyarakat yang ada.

22.  Struktur peran (formal dan informal)
Kepala keluarga berperan menafkahi keluarga dengan bekerja sedangkan istri berperan dalam mengatur rumah tangga

23.  Nilai dan norma keluarga
Keluarga memegang teguh adat istiadat yang berlaku. Kepala keluarga meyakini dan mengikuti kebiasaan ibunya dalam menghadapi istrinya yang sedang hamil, bahwa kondisi istrinya saat ini dianggap tidak perlu dibawa kepelayanan kesehatan karena dianggap merupakan hal yang normal.





V.  Fungsi keluarga
24.  Fungsi affektif
Saling menghormati dan menghargai dalam keluarga sangat terlihat baik secara komunikasi maupun lewat tingkah laku antar anggota keluarga

25.  Fungsi sosial
Interaksi masing-masing anggota keluarga didalam masyarakat berjalan dengan baik

26.  Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi ini masih belum berjalan dengan baik karena kepala keluarga belum mampu mengenal masalah kesehatan yang dialami oleh salah satu anggota keluarga (istri)

27.  Fungsi reproduksi
Keluarga belum memiliki anak. Saat ini istri Tn. D sedang hamil 2 bulan.

28.  Fungsi ekonomi
Kebutuhan akan pangan, sandang dan papan didalam keluarga terpenuhi dengan baik

        VI.Stres dan koping keluarga
29.  Stressor  jangka pendek dan panjang
Saat ini keluarga merasakan adanya suatu permasalahan didalam keluarga yaitu; keluarga, terutama istri merasa belum siap untuk menjadi seorang ibu karena belum banyak mengetahui tentang cara-cara merawat anak


30.  Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
Jika terdapat masalah didalam keluarga maka kepala keluarga mengajak anggota keluarga untuk berdiskusi dalam membahas jalan keluar dari masalah tersebut

31.  Strategi koping yang digunakan
Strategi koping  yang digunakan dalam menghadapi masalah dalam keluarga yaitu koping konstruktif

32.  Strategi adaptasi disfungsional
Tidak ada


        VI.Pemeriksaan fisik
·      Ibu
-        Keadaan umum tampak baik, kesadaran compos mentis, TB : 150 cm, BB : 52 kg, TD : 120/70 mmhg, Nadi : 78x/mtt, RR : 22x/mt, Suhu : 36 5 0 C.
-        Kepala : kulit kepala bersih, rambut tampak tumbuh subur, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri kepala. Wajah, edema wajah tidak ada, cloasma gravidarum tidak ada
-        Telinga : fungsi pendengaran baik, kebersihan terjaga, nyeri tekan daerah belakang telinga tidak ada.
-        Mata : sklera putih, konjungtiva agak pucat, fungsi penglihatan baik, pergerakan bola mata baik
-        Hidung : penciuman baik, kebersihan terjaga, polip tidak ada, nyeri tekan daerah maxila tidak ada
-        Mulut : kebersihan terjaga, gigi tampak bersih, lidah bersih, mukosa bibir lembab, nyeri menelan tidak ada, mual (+), muntah (+)
-        Leher : pembesaran tyroid tidak  ada, defiasi trakhea tidak ada, peninggian vena jugularis tidak ada
-        Dada : tampak simetris, bunyi napas vesikuler, bilateral, bunyi jantung tidak ada kelainan, nyeri tekan tidak ada, kedua mamae tampak simetris, areola tampak kecoklatan, nipple menonjol.
-        Abdomen : striae gravidarum tidak ada, nyeri abdomen tidak ada,
-        Genitalia  : edema tidak ada, hemorhoid tidak ada, varises tidak ada, pengeluaran cairan sedikit, vagina tampak kebiruan, goodle sign (+)
-        Ekstremitas : varises tidak ada, pergerakan baik, tanda-tanda tromboplebitis tidak ada.
-        Pola makan : 3 x sehari, dengan menu nasi, sayur dan lauk. Pada saat ini ibu malas untuk makan karena adanya rasa mual dan muntah.
-        Pola eleminasi : BAB 1 x sehari dengan konsistensi lembek, BAK 3-4 x sehari.
-        Aktifitas : kegiatan ibu hanya didalam rumah dan melaksanankan kegiatan rumah tangga, ibu mengeluh sering capek-capek sehingga malas untuk keluar rumah
-        Tidur : tidur malam selama 7 – 8 jam, tidur siang 2 jam, masalah tidur tidak ada
-        Psikologis : saat ini ibu merasa cemas menghadapi kehamilannya karena ia merasa belum siap untuk mengasuh seorang anak

        VII.Harapan keluarga
  Harapan keluarga terhadap petugas kesehatan yang ada cukup baik karena keluarga mengharapkan di kunjungi oleh petugas kesehatan pada saat-saat tertentu







3.3  ANALISA DATA

NO
KELOMPOK DATA
ETIOLOGI
MASALAH
1.
DS :
·         Ny. Y mengatakan bahwa ia mual dan muntah-muntah sehingga malas untuk makan karena ia khawatir semakin ia makan semakin hebat rasa mual dan muntah yang dideritanya.
·         Tn. D menganggap bahwa malas makan akibat mual dan muntah yang dialami istrinya adalah hal yang wajar terjadi pada wanita hamil.

Kurangnya pengetahuan keluarga Tn. D terhadap dampak mual dan muntah terhadap kehamilan
Persepsi keluarga terhadap mual dan muntah yang dialami Ny. A tidak tepat
Mual dan muntah tidak diatasi
Intake nutrisi tidak adequate pada Ny. Y
Resiko tinggi gangguan pada kehamilan Ny. Y

Resiko tinggi gangguan kehamilan Ny. Y
2.
DS :
·         Ny. Y mengatakan bahwa ia bingung bagaimana nanti ia mengasuh anaknya dan tidak yakin dapat   menjadi ibu yang baik Karena ia merasa masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu. 

Kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara  perawatan anak
Stresor bagi keluarga
Koping tidak efektif
Kecemasan keluarga dalam menghadapi kehadiran anak
Kecemasan keluarga dalam menghadapi kehadiran anak
3.
DS :
·         Ny. Y mengatakan bahwa ia belum pernah memeriksakan kandungannya kepada pelayanan kesehatan karena rasa malas bepergian kemana-mana.
·         Tn. D tidak menganjurkan istrinya untuk memeriksakan kandungannya ke pelayanan kesehatan karena ia yakin kandungan istrinya baik-baik saja.
·         Tn. D mengatakan bahwa orang tuanya pun dulu tidak pernah memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan, tetapis semuanya berjalan baik-baik saja.

Kurangnya pengetahuan kelauarga tentang pentingnya pemriksaan kehamilan
Persepsi keluarga terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan tidak tepat
Pemeriksaan kehamilan pada Ny. A tidak dilakukan
Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang hamil.
Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan : tidak memeriksakan kehamilan 


3.4  DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Resiko tinggi gangguan kehamilan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga terhadap dampak mual dan muntah pada kehamilan
Skoring :

NO
KRITERIA
SKOR
BOBOT
NILAI
PEMBENARAN
1.
Sifat masalah :
Ancaman kesehatan

2/3

1

2/3

Mual dan muntah yang tidak diatasi dapat mengakibatkan kebutuhan nutrisi dan cairan ibu dan janin tidak terpenuhi sehingga pertumbuhan perkembangan akan terhambat.

2.
Kemungkinan masalah dapat diubah :
Mudah



2/2




2



2
Peningkatan pengetahuan keluarga tentang dampak mual dan muntah terhadap kehamilan akan merubah persepsi keluarga yang tidak tepat dalam menangani mual dan muntah yang dialami Ny. A

3.
Potensial masalah untuk dicegah :
tinggi


3/3


1


1
Gangguan kehamilan tidak akan terjadi jika mual dan muntah yang dialami Ny. A diatasi dengan cepat dan tepat.

4.
Menonjolnya masalah :
Masalah berat harus segera ditangani


2


1


2
Malas makan akibat mual dan muntah yang dialami Ny, A dianggap hal yang biasa terjadi pada ibu hamil oleh Tn.   A


Total Score



5 2/3



b.      Kecemasan keluarga dalam menghadapi kehadiran anak berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga dalam perawatan anak
Skoring :

NO
KRITERIA
SKOR
BOBOT
NILAI
PEMBENARAN
1.
Sifat masalah :
Krisis


1/3

1

1/3
Kehadiran anak dalam keluarga dapat menimbulkan masalah apabila keluarga tidak siap dan  Kurang mengetahui dalam mengasuh anak

2.
Kemungkinan masalah dapat diubah :
mudah



3/3




2



2
Peningkatan pengetahuan tentang mengasuh anak akan dapat menurunkan tingkat kecemasan.

3.
Potensial masalah untuk dicegah :
tinggi 


3/3


1


1
Masalah dapat dicegah apabila keluarga mengetahui cara-cara dalam mengasuh anak

4.
Menonjolnya masalah :
Masalah dirasakan.


1


1


1
Keluarga menuyadari adanya kecemasan namun tidak berusaha untuk menanganinya.


Total Score


4 1/3




c.       Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan; tidak memeriksakan kehamilan..
Skoring :

NO
KRITERIA
SKOR
BOBOT
NILAI
PEMBENARAN
1.
Sifat masalah :
Ancaman kesehatan

2/3

1

2/3
Pemeriksaan teratur pada kehamilan dapat mendeteksi secara dini kelainan-kelainan dalam kehamilan..

2.
Kemungkinan masalah dapat diubah :
mudah



3/3



2



2
Dengan peningkatan pengetahuan tentang kehamilan keluarga dapat mengenala adanya masalah

3.
Potensial masalah untuk dicegah :
tinggi


3/3


1


1
Masalah dapat dicegah jika keluarga mengetahui pentingnya pemeriksaan kehamilan.

4.
Menonjolnya masalah :
Masalah tidak dirasakan keluarga.


0


1


0
Masalah  tidak dirasakan keluarga karena  keluarga tidak menganggap penting untuk memeriksakan kehamilan. 


Total Score



3 2/3





Daftar Prioritas Diagnosa Keperawatan :
1.      Resiko tinggi gangguan kehamilan pada Ny. A berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga terhadap dampak mual dan muntah pada kehamilan
2.      Kecemasan keluarga dalam menghadapi kehadiran anak berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara perawatan anak
3.      Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan; tidak memeriksakan kehamilan.








 PERENCANAAN KEPERAWATAN

NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
KRITERIA
STANDAR
TINDAKAN KEPERAWATAN
UMUM
KHUSUS
1
Resiko tinggi gangguan kehamilan pada Ny. Y berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga terhadap dampak mual dan muntah pada kehamilan

Resiko gangguan kehamilan pada Ny. Y tidak menjadi aktual .
Setelah diberikan penyuluhan 30 menit keluarga dapat menjelaskan :
a)      Penyebab mual dan muntah selama kehamilan
b)      Dampak mual dan muntah terhadap kehamilan
c)      Cara menanggulangi mual dan muntah selama kehamilan
d)     Bersedia memeriksakan kehamilannya ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.


Pengetahuan keluarga tentang factor resiko yang dapat mengakibatkan gangguan kehamilan meningkat

Keluarga dapat menyebutkan kembali :
a)      Penyebab mual dan muntah selama kehamilan 
b)      Dampak mual dan muntah terhadap kehamilan
c)      Cara menanggulangi mual dan muntah selama kehamilan
d)     Bersedia memeriksakan kehamilannya ke tempat pelayanan kesehatan terdekat minimal 1 bulan 1x dalam 6 bln pertama, 2 minggu sekali selama 3 bulan terakhir.
Berikan penyuluhan kesehatan pada keluarga selama 30 menit tentang :
a)      Penyebab mual dan muntah selama kehamilan 
b)      Dampak mual dan muntah terhadap kehamilan
c)      Cara menanggulangi mual dan muntah selama kehamilan
d)     Anjurkan pada keluarga untuk memeriksaakan kehamilan Ny. A 1 bulan 1x dalam 6 bln pertama, 2 minggu sekali selama 3 bulan terakhir.

2































3
Kecemasan ibu dalam menghadapi kehadiran anak berhubungan dengan kurangnya pengetahuan ibu tentang cara perawatan anak













Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan; tidak memeriksakan kehamilan.


Kecemasan ibu akan hilang atau berkurang


















Keluarga mampu mengenal masalah   kesehatan yang ada















Setelah diberikan penyuluhan 30 menit ibu dapat menjelaskan :
a)   Akibat cemas pada kehamilannya
b)   Cara-cara mempersiapkan diri dalam  menghadapi kelahiran anak
c)   Cara-cara merawat anak selama hamil dan setelah melahirkan









Setelah diberikan penyuluhan 30 menit keluarga dapat menjelaskan :
a)    Pengertian kehamilan
b)   Tanda dan gejala yang normal selama kehamilan
c)   Tanda dan gejala yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi selama kehamilan
d)  Tindakan yang harus dilakukan jika terlihat tanda dan gejala yang mengancam jiwa ibu dan bayi
Pengetahuan keluarga tentang cara-cara merawat anak meningkat
















Pengetahuan keluarga tentang kehamilan meningkat


Keluarga dapat menyebutkan kembali :
a)       Akibat cemas pada kehamilannya
b)       Cara-cara mempersiapkan diri dalam  menghadapi kelahiran anak
c)       Cara-cara merawat anak selama hamil dan setelah melahirkan










Keluarga dapat menyebutkan kembali :
a)     Pengertian kehamilan
b)    Tanda dan gejala yang normal selama kehamilan
c)     Tanda dan gejala yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi selama kehamilan
d)    Tindakan yang harus dilakukan jika terlihat tanda dan gejala yang mengancam jiwa ibu dan bayi


Berikan penyuluhan kesehatan pada keluarga selama 30 menit tentang :
a)       Akibat cemas pada kehamilannya
b)      Cara-cara mempersiapkan diri dalam  menghadapi kelahiran anak
c)       Cara-cara merawat anak selama hamil dan setelah melahirkan









Berikan penyuluhan kesehatan pada keluarga selama 30 menit tentang :
a)     Pengertian kehamilan
b)   Tanda dan gejala yang   normal selama kehamilan
c)    Tanda dan gejala yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi selama kehamilan
d)   Tindakan yang harus dilakukan jika terlihat tanda dan gejala yang mengancam jiwa ibu dan bayi


BAB  IV
P E N U T U P


Keperawatan merupakan bentuk pelayanan kesehatan profesional dan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual secara komprehensif ditujukan kepada individu, keluarga, masyarakat mencakup seluruh daur hidup manusia.
Salah satu pendekatan praktek keperawatan adalah dengan menggunakan teori model Madeleine Leininger.yang membangun teori transcultural nursing pada premise bahwa individu-individu setiap kultur tidak hanya tahu dan menentukan cara yang mereka alami dan rasakan dalam asuhan keperawatan tapi juga pengalaman-pengalaman dan persepsi ini untuk kepercayaan-kepercayaan dan praktek terhadap kesehatan mereka secara umum.
            Leininger mempunyai beberapa konsep yaitu diantaranya tentang budaya, nilai-nilai budaya, cultural care diversity, cultural care university, cultural care, world view, social structure, kontek lingkungan, sistem kesehatan, sistem kesehatan profesional, care, cultural care preservation, cultural care accomodation, cultural care reppatterning dan tambahan yaitu keperawatan adalah transcultural care proffesion, dimana secara satu persatu konsep tersebut akan dijelaskan.

DMC